Beranda Berita Sadio Mane Perjuangan Bocah Miskin Hingga Jadi Penguasa Eropa

Sadio Mane Perjuangan Bocah Miskin Hingga Jadi Penguasa Eropa

79
0
Sadio Mane Perjuangan Bocah Miskin Hingga Jadi Penguasa Eropa
Sadio Mane Perjuangan Bocah Miskin Hingga Jadi Penguasa Eropa

Sadio Mane Perjuangan Bocah Miskin Hingga Jadi Penguasa Eropa – Setiap pemain sepak bola tentu memiliki kisah tentang perjuangan dalam karirnya. Tak sedikit dari mereka yang lahir dan besar dari keluarga miskin dengan kondisi ekonomi tingkat bawah. Kesulitan yang selalu menemaninya menjadi pelecut semangat mereka dalam mengejar impian sebagai bintang sepak bola dunia.

Salah satu bintang sepak bola yang berasal dari keluarga miskin adalah Sadio Mane. Striker Senegal tersebut sudah begitu banyak makan asam garam kehidupan sejak kecil. Perjuangannya mengangkat derajat keluarga akhirnya terbayar dengan sejumlah trofi bergengsi yang didapatkannya bersama Liverpool. Kini, Mane dikenal sebagai salah satu pesepak bola tersukses di Afrika.

Kabur Demi Sepak Bola

Sadio Mane lahir di sebuah desa kecil di Kota Sedhiou, Senegal, pada 10 April 1992. Hidup di lingkungan dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah memaksa sang ibu melahirkan anak-anaknya di rumah dengan bantuan kerabat dekatnya.

Mane harus kehilangan ayahnya pada usia 7 tahun karena sakit parah. Kurangnya fasilitas kesehatan di desanya membuat Mane terpaksa merawat sendiri ayahnya di rumah. Sayangnya, beberapa hari kemudian Mane harus rela menerima kenyataan bahwa sang ayah telah meninggal dunia.

Di tengah kesulitan hidupnya, Mane selalu berusaha untuk mengangkat derajat keluarganya agar keluar dari jurang kemiskinan. Ia kemudian sadar bahwa sepak bola merupakan satu-satunya jalan terbaik baginya untuk memperbaiki keadaan.

Namun, keluarga Mane tak setuju dengan keinginan Mane tersebut. Ibu Mane beranggapan bahwa untuk menjadi pesepak bola profesional membutuhkan dana yang tak sedikit. Sang ibu kemudian menyarankan Mane untuk fokus bersekolah agar menjadi pribadi yang lebih baik.

Mane bersikeras dan yakin bahwa sepak bola bisa mengubah hidupnya. Suatu hari, ia bangun pagi buta di saat ibu dan saudara-saudaranya masih tertidur. Tanpa mandi dan hanya sekedar sikat gigi, Mane meninggalkan rumah terburu-buru.

Bukan untuk berangkat ke sekolah, Mane justru berjalan jauh menuju rumah temannya yang meminjamkan sejumlah uang untuk pergi ke Dakar. Mane menempuh perjalanan jauh menggunakan bus ke Dakar hanya untuk mengikuti trial bersama tim akademi Generational Foot.

Buktikan Kualitas

Setibanya di tempat trial, Mane menjadi perhatian banyak orang karena penampilannya yang tak biasa. Ia datang dengan sepatu tua dan koyak, serta celana pendek yang tak layak pakai. Beberapa orang bahkan menertawakan dan menilai bahwa Mane tak pantas disebut sebagai pesepak bola.

Bermodal keyakinan tinggi, Mane menunjukkan bakatnya dalam mengolah bola. Alhasil, ia mampu bersaing dengan ratusan anak yang mengikuti trial tersebut. Mane pun lolos seleksi dan diterima untuk bermain di tim akademi tersebut.

Injakkan Kaki di Eropa

Sadio Mane Perjuangan Bocah Miskin Hingga Jadi Penguasa Eropa
Sadio Mane Perjuangan Bocah Miskin Hingga Jadi Penguasa Eropa

Generation Foot menjalin kerjasama dengan salah satu klub elit di Perancis, FC Metz. Berkat kerjasama itulah Mane menemukan jalan menuju puncak karirnya. Ia menjadi salah satu pemain yang mendapat kesempatan untuk trial bersama Metz pada 2011 silam.

Penampilan cemerlangnya membuat Metz tak ragu memberi Mane kontrak profesional. Kala itu, Mane membela Metz yang berkompetisi di Ligue 2. Musim pertamanya di Metz berhasil dilewati Mane dengan baik. Ia mencatatkan 19 penampilan dengan torehan 1 gol dan 4 assist.

Pada musim berikutnya, Mane direkrut oleh raksasa Liga Austria, RB Salzburg. Ia menjadi pemain kunci Salzburg selama 2 musim dengan total 29 gol.

Catatan gemilang tersebut membawa Mane terbang ke Inggris untuk bergabung dengan Southampton. Dua musim membela The Saints, Mane mampu tampil memukau dengan sumbangan 21 gol dan 9 assist.

Taklukkan Dunia

Juli 2016 menjadi momen bersejarah dalam hidup Mane. Ia pindah ke Liverpool setelah ditebus dengan biaya transfer sebesar 40 juta euro. Sejak musim pertamanya di Anfield, Mane telah menjadi pilihan utama pelatih di lini depan Liverpool.

Musim 2018/2019 merupakan puncak karir pemain 28 tahun tersebut. Mane sukses mempersembahkan trofi Liga Champions ke-6 bagi Liverpool setelah mengalahkan Tottenham Hotspur 2-0 di final. Beberapa bulan kemudian, Mane membawa Liverpool menjadi klub terbaik dunia setelah menjuarai Piala Dunia Antar Klub 2019.

Tak berhenti sampai di situ, kerja keras Mane kembali berbuah manis. Ia sukses membawa Liverpool menyudahi puasa gelar Premier League selama 30 tahun. Trofi Premier League 2019/2020 mampu ia berikan untuk The Reds.

Bersama Roberto Firmino dan Mohamed Salah, Mane menjadi bagian dari trio striker terbaik dunia saat ini. Mane membuktikan bahwa perjuangan dan kerja keras yang diiringi dengan niat baik akan berbuah hasil yang manis.

Baca Juga : 5 Destinasi Wisata Favorit Lionel Messi Tertarik Berkunjung

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here